Sabtu, 08 November 2008

Amnesti Internasional Sesalkan Eksekusi Amrozi Cs


London, CyberNews. Amnesti Internasional berharap eksekusi mati terhadap ketiga pengikut Islam garis keras yang telah dihukum karena terlibat dalam Bom Bali 2002 menjadi yang terakhir kali bagi Indonesia.

Amnesti Internasional, kelompok hak asasi manusia internasional yang bermarkas di London, mengutuk kejahatan ketiga orang itu tetapi menyebut eksekusi mati mereka merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia.

Para pembom, Amrozi, Mukhlas dan Imam Samudra, telah dieksekusi oleh satu regu tembak pada Minggu sekitar 00.15 WIB (Sabtu 17.15) karena serangan yang ditargetkan pada klab malam di pulau Bali yang menewaskan 160 lebih orang asing dan juga 38 warga Indonesia.

Amnesti mengatakan, eksekusi terhadap tiga orang yang dikenal secara kolektif sebagai pelaku Bom Bali hendaknya menjadi terakhir kali pemerintah Indonesia menggunakan hukuman mati.

Direktur Asia-Pasifik Amnesti Internasion Sam Zarifi, mengatakan ketiga orang itu memang "telah melakukan kekejaman yang mengerikan" tetapi "dengan meneruskan putaran kekerasan melalui pembunuhan yang disetujui negara adalah membalas pelanggaran hak asasi manusia dengan pelanggaran (HAM) lagi.

Amnesti Internasional menyampaikan simpatinya pada korban kekerasan itu dan orang-orang yang mereka cintai yang menderita kehilangan besar.

Organisasi ini mengakui perlunya semua orang yang melakukan kejahatan untuk dibawa ke pengadilan tapi menunjukkan bahwa tidak ada bukti jelas bahwa hukuman mati merupakan alat pencegahan yang efektif.

Kubu McCain dan Palin Ribut


BOSTON, KOMPAS - Ribut merebak antara kubu John McCain dan Sarah Palin. Media AS, termasuk televisi Fox dan CNN, hari Kamis (6/11) memberitakan, penyebab pertikaian antara kubu calon presiden dan wakil presiden dari Partai Republik ini antara lain Palin tidak paham bahwa Afrika adalah sebuah benua.

Palin bereaksi atas semua itu. ”Saya kecewa dengan media-media besar AS. Begitu gampang memunculkan berita, yang seharusnya dikonfirmasikan lebih dulu,” kata Palin saat mendarat di Anchorage, Alaska, Rabu malam.

Menurut The Canadian Press, Palin tidak tahu bahwa Afrika itu sebuah benua. Palin bahkan mengira Afrika adalah sebuah negara dan Afrika Selatan adalah bagian dari satu negara Afrika. Isu ini beredar di televisi Fox.

”Itu benar-benar merupakan ulah dari orang yang berpikiran sempit. Saya tidak mau berkomentar soal itu, hingga saya tahu siapa yang membocorkannya,” kata Palin kepada Fox.

Juga disebutkan, Palin tidak tahu negara mana saja yang menjadi anggota Area Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA). NAFTA adalah area perdagangan bebas yang beranggotakan Kanada, Amerika Serikat, dan Meksiko.

Kubu McCain menuduh The New York Times sebagai sumber dari semua informasi itu.

Setelah kalah dalam pemilu 4 November, tak satu pun pihak McCain yang mau berhubungan lagi dengan kubu Palin. Ketika sudah mengetahui kekalahan, muncul ketegangan antara kubu McCain dan Palin. Palin ingin berpidato sebelum giliran McCain mengaku kalah sekaligus menghibur para pendukung. Namun itu ditolak oleh kubu McCain, dengan alasan tidak tepat.

Hari-hari terakhir kampanye, hubungan kubu McCain dan Palin makin tegang. Kejengkelan makin memuncak ketika Palin tertipu dan menerima telepon dari Presiden Perancis Nicolas Sarkozy, Minggu. Ternyata si penelepon adalah Sarkozy palsu alias pelawak Kanada bernama Sebastian Trudel Audette. ”Istri saya (Carla Bruni) mengagumi Anda,” kata Audette, yang dijawab Sarah Palin dengan mengatakan, ”Kirim peluk cium saya untuknya.”

Steve Schmidt, ahli strategi McCain, langsung mengadakan pertemuan dan menegaskan, ”Tidak boleh ada yang menyetujui percakapan telepon dari pihak luar dengan Palin tanpa sepengetahuan kubu McCain.”

Orang kepercayaan Palin, Steve Biegun, menyatakan sangat bersalah karena dia menyetujui percakapan itu tanpa memeriksa lebih dalam siapa si penelepon.

Kubu McCain juga jengkel setelah wawancara yang menghebohkan antara Palin dan Katie Couric dari televisi CBS pada 24 September. Pada wawancara itu, Palin mengatakan paham soal kebijakan luar negeri. Alasannya, dia bertetangga dengan Kanada, bahkan Rusia bisa dia lihat dari rumahnya di Alaska. Wawancara ini membuat pamor McCain-Palin hancur.

Setelah wawancara itu, kubu McCain mengatakan jengkel karena Palin tidak mau diberi saran sebelum wawancara dengan CBS berlangsung. Padahal, pemberian saran itu penting karena kubu McCain sudah kecewa karena Palin tidak tahu Afrika. Setelah terpukul dengan wawancara itu, Palin dikabarkan malah melempar kesalahan dengan menuduh kubu McCain tidak memberi masukan yang memadai.

Tuduhan boros

Tuduhan lain yang menyebar adalah Palin sangat boros menghabiskan uang milik Komite Kampanye Partai Republik. Di sebuah toko terkenal di AS, Palin pernah menghabiskan 150.000 dollar AS dalam sehari untuk membeli baju. Padahal, untuk urusan pakaian dan penampilan, kubu McCain sudah mempersiapkan segalanya. Namun, Palin dikabarkan tidak suka diatur soal pakaian dan penampilan.

The Los Angeles Times memberitakan, suami dan anak-anak Palin juga memanfaatkan uang Republik untuk membeli tas merek Louis Vuitton dan sepatu bermerek serta berharga mahal untuk suaminya. Kepada Newsweek, kubu McCain mengatakan barang-barang keperluan pribadi untuk keluarga Palin itu dibelikan donor pengagum Palin.

Atas ulahnya itu, Palin dijadikan kambing hitam sebagai salah satu penyebab kekalahan Republik. ”Saya mengagumi McCain, hubungan kami tetap baik. Namun, jika saya telah menyebabkan kekalahan, saya meminta maaf,” kata Palin.

Dia mengatakan, ”Saya baik- baik saja. Tidak ada rasa sakit hati dan kecewa. Ini politik, ada hal- hal sulit sekaligus menyenangkan, tetapi semuanya baik-baik saja,” kata Palin kepada wartawan di Anchorage.

Amrozi Dieksekusi, Australia Rilis Travel Warning Baru


Sydney - Australia mengeluarkan travel warning baru menyusul eksekusi Amrozi Cs. Australia mengatakan eksekusi ini tidak dirayakan secara berlebihan.

"Ini bukan hari yang bisa kita isi dengan kegembiraan dan perayaan," ujar Menteri Luar Negeri Australia Stephen Smith seperti dilansir Reuters, Minggu (9/11/2008).

"Kita melanjutkan dari informasi yang kredibel bahwa mungkin saja teroris merencanakan serangan di Indonesia," kata Smith.

Travel warning itu dikeluarkan karena siswa sekolah menengah (schoolies) yang sedang berlibur mungkin berpikir untuk berwisata ke Indonesia selama enam minggu. Dia menyarankan WN Australia menghindari pantai, bar, dan pusat-pusat perbelanjaan.

"Kita khawatir para pendukung pelaku bom Bali itu mengadakan demonstrasi atau balas dendam," ujar dia seperti dilansir dari Sydney Morning Herald.

Smith menambahkan secara personal dia merasa jijik dengan apa yang dilakukan Amrozi Cs, namun pemerintah Australia cukup legawa bahwa akhirnya ketiga pengebom Bali I itu menghadapi eksekusi mati.

Sementara Perdana Menteri (PM) Australia Kevin Rudd memikirkan nasib korban.

"Hidup mereka telah hancur. Kehidupan mereka telah berubah total oleh pembunuhan itu," ujar Rudd.

Australia sebelumnya telah mengeluarkan travel warning menjelang eksekusi Amrozi cs pada 24 Oktober 2008 lalu.

Amrozi cs dieksekusi karena melakukan serangan bom Bali I 12 Oktober 2002 yang menewaskan 202 orang, termasuk 88 warga negara Australia

Jumat, 07 November 2008

Ekskusi Amrozi Cs Tinggal Masalah Teknis

JAKARTA, JUMAT - Tiga orang tersangka kasus Bom Bali I telah lama divonis mati. Eksekusi Amrozi cs pun telah diumumkan bakal dilakukan awal November ini. Namun hingga, Jumat (7/11) ini mereka belum juga dihadapkan pada regu tembak.
"Kita masih ada masalah teknis," kata Wakil Jaksa Agung, Muchtar Arifin, Jumat (7/1), di Jakarta. Muchtar Arifin mengatakan, masih ada masalah terkait dengan belum dilaksanakannya ekskusi.
Sayang, Muchtar tidak mau menjelaskan lebih lanjut mengenai masalah teknis apa yang menyebabkan waktu eksekusi mereka itu menjadi tak jelas. Namun, yang jelas masalah teknis tidak terkait dengan masalah hukum terhadap vonis tersebut.
"Kalau kasusnya sudah closed (ditutup), Kalau ada usaha-usaha lainnya tidak akan berpengaruh," tegas Muchtar. Masalah hukum mengenai Amrozi, Ali Gufron dan Imam Samudra terkait dengan vonis mati tersebut sudah ditutup.
Tidak ada lagi upaya-upaya untuk menyelamatkan mereka dari vonis tersebut. Jadi, tunggu saja eksekusi tersebut dilakukan apakah lusa, besok, atau malam ini.

Ralat Undangan.


Assalamu'alaikum Wr.Wbr.

Dengan permintaan ma'af yang sebesar-besarnya undangan Reuni Ikatan Keluarga 872 yang semula akan dilaksanakan pada hari Minggu, tanggal 16 Nopember 2008,pukul 09.00,kita ralat menjadi hari Minggu,tanggal 11 Januari 2009, pukul 08.00,tempat Kesatrian Grup " C " Paspampres Lawang Gintung Bogor.
Atas pengertian dan perhatiannya diucapkan terima kasih.

Wassalamu'alaikum Wr.Wbr.