Jumat, 16 Januari 2009

Ribuan Penduduk Gaza Makamkan Said Siam


GAZA--MI: Ribuan warga Gaza memadati jalan untuk mengikuti pemakaman Said Siam, menteri dalam negeri Hamas yang menguasai Jalur Gaza, Jumat (16/1).

Said Siam menjadi korban tewas akibat serangan udara Israel. Siam tewas bersama saudara laki-lakinya, serta seorang anaknya. Tewasnya Siam membuat sayap militer Hamas menyerukan pembalasan terhadap Israel.

Said Siam dikenal sebagai tokoh garis keras dan menjadi pembentuk milisi Executive Force semenjak Hamas menguasai Gaza pada Juni 2007.

Said Siam menjadi pemimpin tertinggi Hamas yang terbunuh semenjak Israel membombardir Jalur Gaza, wilayah otoritas Palestina, sejak 27 Desember lalu.

Sabtu, 13 Desember 2008

Siapa Yang Perawan?!!

KapanLagi.com - Seorang gadis di Solo dimarahi ibunya karena ia sering makan di depan pintu. Maklum, menurut kepercayaan Jawa seorang gadis perawan tidak boleh makan di depan pintu. Gak payu alias gak laku nantinya.

Ibu : Sudah ibu bilang berapa kali, jangan makan di depan pintu! Masih saja diulangi.

Gadis : (diam saja dan asik makan terus)

Ibu : Apa kamu nggak denger kata ibu?? (nadanya mulai meninggi)

Gadis : (masih diam saja, betul-betul tak mempedulikan perkataan ibunya)

Lalu ibunya mulai jengkel. Ibunya mulai membentak-bentak.

Ibu : (sambil berteriak) He! Kamu dengar nggak sih kata ibu. Perawan itu gak boleh makan di depan pintuuu!!! Kalau nggak laku tahu rasa nanti kamu!

Lalu anaknya yang juga sudah jengkel pada ibunya balas membentak.

Gadis : Ibu bisa diam gak sih. Dari tadi ngomel melulu. Lagian, siapa yang perawan!!!

Mau Jadi Penulis? Jadilah Pembaca (REVIEW BUKU)


Minggu lalu seorang sahabat saya menyatakan dia ingin menulis buku. Tentu saja saya sambut baik keinginan itu, siapa tahu cocok, saya bisa merekomendasikan buku karyanya itu ke kantor, lalu terbit, dan terjadilah yang namanya win-win situation—semua senang.

Maka kami membahas buku yang ingin dia tulis tersebut, yang adalah buku kumpulan resep. Dalam bayangannya, dia ingin membuat buku hard cover ukuran besar, dan memuat sekitar 100 resep. Tapi dia ingin menujukan buku tersebut bagi ibu-ibu muda yang baru menikah dan belajar masak.

Waduh, saya langsung menebak bahwa sahabat saya ini kurang mengenal target market-nya. Sekarang bayangkan dulu buku hard cover berukuran besar yang luks, isinya 100 resep sehingga tentu cukup tebal. Bayangkan harganya. Saya taksir harganya mungkin sekitar Rp100.000.

Setelahnya bayangkan ibu muda yang baru belajar masak. Buku macam apa yang akan dia beli? Mungkin buku tipis yang bisa dilipat dan dibawa ke dapurnya untuk disandarkan di dinding, tempat dia bisa membaca langkah demi langkah memasak yang harus dia lakukan. Mungkin buku yang spesifik membahas jenis masakan tertentu seperti masakan sayuran, masakan ayam, atau masakan sea food. Dan karena dia ibu muda yang mungkin baru menikah dan mungkin keuangan keluarganya belum stabil, maka saya rasa dia akan memilih membeli buku masak yang range harganya sekitar Rp15.000-30.000.

Sekarang apa hubungannya ilustrasi ini dengan judul posting di atas? Kembali ke pemikiran saya bahwa sahabat saya itu tidak mengenal target market-nya. Menurut saya, setiap pengarang harus mengerti target tulisannya. Pengarang novel remaja mesti mengenal dunia remaja. Pengarang novel percintaan harus kenal dunia ibu-ibu atau perempuan dewasa muda yang banyak membeli jenis novel begitu. Pengarang travel writings harus tahu kesukaan para backpacker. Dan sebagainya.

Sebelum mulai menulis, sebaiknya seorang penulis menempatkan diri atau membayangkan dirinya menjadi pembaca buku yang akan ditulisnya itu. Atau okelah, kalau terlalu lama membayang-bayangkan nanti ide tulisannya lenyap. Jadi, oke, buatlah dulu tulisan itu. Tumpahkanlah dulu semua keluar. Setelahnya, sebelum minta pendapat orang terdekat (bukankah pembaca pertama selalu orang-orang terdekat?), coba bayangkan diri kamu jadi pembacanya. Bukan sebagai diri kamu—kamu harus keluar dari diri kamu, harus jadi orang lain (karena pengarang kadang tidak bisa melihat lubang-lubang pada tulisannya sendiri). Bayangkan diri kamu ada di toko buku dan melihat buku karya kamu itu sudah terbit dan dipajang di rak. Apa yang akan kamu lakukan? Apakah kamu akan mengambilnya? Membaca sinopsisnya? Atau... melewatinya begitu saja?

Kalau kira-kira yang terjadi yang terakhir, waks! Pahitnya, lebih baik kamu simpan saja naskah itu. Tapi yang lumayan asem saja, yah, kamu jadi bisa melontarkan pertanyaan, kenapa kira-kira naskah itu jadi naskah yang dilewati? Dari situ mungkin kamu bisa memperbaikinya.

Dari sudut pandang pembaca/pembeli buku, kamu bisa mendapat poin-poin penting bagi naskah kamu. Kamu bisa menelaah ulang apakah tema yang kamu angkat dalam tulisan kamu cukup menarik? Apakah pembaca mendapat keuntungan tertentu setelah membaca karya kamu (tambahan pengetahuan atau kepuasan)? Apakah cover yang kamu bayangkan cukup eye-catching untuk bersaing dengan ribuan atau bahkan jutaan buku lain di toko buku? Apakah sinopsis yang kamu rancang bisa menarik perhatian calon pembaca sehingga mau membeli buku kamu? Bahkan sampai ke hal-hal praktis seperti apakah buku ini nanti akan terlalu tebal sehingga pembaca malas mulai membacanya (meskipun Twilight Saga sudah begitu ngetop, salah satu teman tetap malas membacanya karena melihat ketebalannya), apakah kamu bisa minta pada penerbit untuk men-setting ukuran khusus sehingga buku kamu gampang dibawa-bawa oleh pembaca? Atau apakah kamu bisa minta jenis kertas khusus sehingga buku kamu ringan bila dibawa atau harganya bisa lebih murah?

Semua ini akan lebih membantu kamu saat mencipta. Kamu jadi punya bayangan yang utuh akan karya akan akan kamu ciptakan, dalam bahasan ini adalah buku yang kamu karang. Kalau kamu punya gambaran yang utuh, kamu akan lebih semangat mengerjakan naskah kamu, dan naskah kamu juga akan lebih mudah tembus ke penerbit. Jadilah pembaca pertama naskah kamu sendiri, bayangkan kekurangan dan kelebihannya, dan selamat berkarya!

(Disebarkan Oleh Donna)

SEKILAS TEROR MUMBAI


Dewo Ningrat menirimkan sebuah artikel yang menarik yang ditulis oleh wartawan Jawa Pos bernama Ridlwan. Secara umum artikel tersebut telah memberikan gambaran yang baik tentang peristiwa teror yang terjadi di India. Pertama pendekatan bahwa telah terjadi sekitar belasan peristiwa teror sepanjang tahun 2008 memang keharusan. Kedua bahwa teror Mumbai adalah yang paling terkoordinasi juga tidak bisa dibantah karena faktanya serangan tersebut telah dipersiapkan sejak 4 bulan sebelumnya. Ketiga mengenai hasilnya juga sangat telak dengan korban sekitar 172 orang tewas dan 239 orang luka-luka. Belakangan informasi dari Intelijen Luar Negeri India yang terkenal dengan nama Research and Analysis Wing (RAW or R&AW) mengakui bahwa sudah ada informasi intelijen bahwa akan ada serangan terror yang besar dari kelompok teroris yang berbasis di Pakistan. Namun apa artinya informasi intelijen tersebut karena akhirnya peristiwa serangan tidak dapat dicegah.

Saya jadi teringat peristiwa Bom Bali I dimana CIA, MI6, ASIO dan umumnya lembaga intelijen Barat sudah mendapatkan indikasi akan ada serangan ke Bali. Namun "keraguan" dan analisa yang kurang akurat akhirnya menyebabkan peristiwa Bom Bali I terjadi. Bahkan intelijen Barat tersebut juga "enggan" untuk mendorong dikeluarkannya travel warning sehingga banyak warga negara Australia dan Inggris yang menjadi korban.

Kecolongan bagi intelijen adalah sesuatu yang memalukan sekaligus berdampak luas bagi stabilitas negara. Namun rekan-rekan Blog I-I tentunya juga dapat membayangkan luasnya wilayah analisa dari suatu ancaman teroris yang harus direspon oleh lembaga intelijen yang kurang kuat. Hal ini menunjukkan bahwa peranan intelijen yang sering dipojokkan dengan berbagai beban caci maki karena kegagalan, sesungguhnya juga akibat dari perlakuan negara, politisi dan rakyatnya yang apriori atau bahkan penuh kecurigaan terhadap lembaga intelijen-nya sendiri.

Kembali pada masalah Mumbai, setidaknya ada dua kelompok besar yang sering melakukan aksi teror di India, yaitu kelompok separatis/pemisahan dari India dan kelompok ideologis. Masing-masing kelompok tersebut terpecah-pecah dalam berbagai elemen teroris yang berbeda-beda, sekedar contoh:
- Kashmir : Lashkar-e-Taiba, Harakat ul-Mujahedeen, dan Jaish-e-Muhammed
- Ideologi komunis: the Naxalites, the People’s War Group and Maoist Communist Center
- dll

Dalam kasus Mumbai, satu-satunya pelaku teroris yang tertangkap hidup-hidup, Ajmal Qasab menyatakan bahwa kelompoknya telah dilatih selama 6 bulan di camp pelatihan yang dikendalikan Lashkar-e-Taiba di Pakistan, mempelajari perang jarak dekat, penawanan sandera, bahan peledak, navigasi satelit, serta keterampilan survival di laut.

Setiap peristiwa teror yang telah terjadi seperti Mumbai dapat dianalisa dari berbagai sudut pandang, serta dengan semakin bertambahnya informasi semakin lengkap pula analisanya. Tetapi apa gunanya bagi 172 orang yang sudah tewas? Bagi Indonesia, pelajaran yang dapat diambil sangat besar. Pengalaman Indonesia mengungkap kasus-kasus teror telah diakui dunia internasional, hal ini juga termasuk pencegahan sejumlah rencana teror yang tidak dipublikasikan. Namun potensi ancaman masih ada dimana-mana....sementara tingkat kewaspadaan masyarakat Indonesia cenderung naik-turun. Pencegahan teror tidak dapat hanya dilakukan oleh Intelijen Indonesia, Densus 88, atau Special Force TNI, melainkan juga perlu dukungan seluruh elemen masyarakat dalam melaporkan setiap hal yang mencurigakan baik berupa perilaku perorangan atau kelompok maupun berupa keberadaan benda/barang mencurigakan ditempat umum. Hal itu merupakan suatu sistem gotong-royong seluruh komponen bangsa Indonesia dalam memelihara keamanan bersama. Memang sistem hankamrata (pertahanan dan keamanan rakyat semesta) telah diselewengkan untuk kepentingan politik pada masa Orde Baru, namun bila kita cermati bersama adalah menjadi kepentingan seluruh komponen bangsa Indonesia untuk mencegah terjadi aksi kejahatan kemanusiaan seperti tindak terorisme.

Relevansi Hankamrata masih kuat dan seyogyanya kita melihatnya sebagai sebuah partnership yang seimbang dan saling menghormati demi keselamatan bangsa Indonesia dalam mewujudkan Indonesia Raya yang Adil dan Makmur. Disamping itu, tentu saja pemanfaatan teknologi CCTV dan berbagai sistem keamanan juga sangat vital dalam menjamin keselamatan publik.

Berikut ini artikel sudara Ridlwan tentang Mumbai.

Teror Rapi ala Mumbai

Oleh : Ridlwan *

Sepuluh hari menjelang ibadah wukuf di Padang Arafah, Kota Mumbai, India, digenangi darah. Aksi terorisme terkoordinasi memakan korban sedikitnya 125 nyawa manusia. Belum lagi ratusan yang lain yang terluka fisik dan mengalami gangguan trauma mendalam. Gerakan teror yang dilakukan saat masyarakat Amerika Serikat merayakan Thanksgiving itu juga membuat ekonomi Mumbai lumpuh sesaat. Bursa tutup, perusahaan multinasional mengevakuasi karyawan, dan negara-negara maju beramai-ramai mengeluarkan travel warning ke India. Efek domino kengerian akibat aksi itu berhasil dicapai.

Krisis Ekonomi Global


Bapak Seno hanya menyampaikan sedikit kata-kata yang bisa sepi makna atau kaya makna tergantung kita memahaminya.

Apa yang terjadi dalam sistem keuangan global saat ini membuktikan bahwa pengalaman "buruk" yang pernah menimpa Indonesia pada tahun 1996-1998 adalah bukan semata-mata karena kebodohan orang Indonesia, bukan semata-mata karena keserakahan orang kaya Indonesia dan juga bukan semata-mata karena kebrobrokan mentalitas orang Indonesia. Melainkan juga karena keserakahan, kebobrokan, kebodohan para pelaku ekonomi global yang telah terkikis rasa hatinya akan kasih sayang sesama umat manusia.

Konsentrasi pasar keuangan untuk terus-menerus menggandakan keuntungan, untuk mencapai kekayaan demi kekayaan, investasi dan menumpuknya dalam pundi-pundi potensi investasi telah membuat para pelaku ekonomi global khususnya mereka yang ada di dalam pasar modal dan pasar keuangan untuk lupa akan hakikat keberadaan manusia di dunia untuk saling menolong dalam mewujudkan kemakmuran bersama.

Oleh karena itu, sangat penting untuk memperkuat keyakinan rakyat Indonesia untuk bertahan dari terpaan badai krisis yang mungkin telah menyentuh pantai-pantai perekonomian kita.

Tidak saling menyalahkan, melainkan saling bahu membahu dalam kejujuran untuk bertahan dan terus bangkit dalam mewujudkan cita-cita Indonesia Raya yang bermartabat, makmur dan kuat.

Mohon maaf karena Bapak Seno hanya bicara sedikit, meskipun telah membaca tumpukan file informasi krisis ekonomi global yang sedang mencekam Amerika dan Eropa, serta telah mulai menghantam Eropa Timur dan Amerika Latin dan juga Asia. Bapak Seno menyampaikan bahwa dengan mengerti sedikit dan kemudian menyebarluaskan tekad untuk bertahan kadangkala lebih bermanfaat dibandingkan dengan pembeberan keseluruhan potensi ancaman krisis ekonomi yang dapat menurunkan keyakinan rakyat kita untuk bertahan.
disadur dari :