Rabu, 20 Maret 2013

Menyongsong HUT Kemerdekaan RI ke-67

"3 Sumbu Mega Ancaman
Early Warning Threaten of  21 st Century"
Oleh : Mayor Ir. M. Binsar Pane, MM
Edisi Khusus - Rangkuman Buku  :

 

Menyongsong Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke – 67 (17 Agustus 2012) 
Mengenang kembali semangat kebangsaan dan gelora perjuangan para pahlawan kesuma bangsa dengan keringat dan tetesan darah disekujur tubuhnya tetap menerjang maju terus ke medan pertempuran, diiringi jeritan tangis dan pekikan merdeka......merdeka....merdeka.....hidup atau mati, akhirnya Boedi Oetomo Bapak Kebangkitan Nasional bersama seluruh rakyat menghantarkan Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaannya.  Mungkinkah generasi penerus bangsa sebagai anak-cucu para pahlawan yang mulia, dengan  pengorbanan jiwa dan raganya dapat menyelamatkan bangsa dan negara dari mega ancaman bahaya yang menghadang....?. 

Termasuk sebagai sumbangan pemikiran dan kontribusi konkrit terhadap proses pelaksanaan hasil dari KTT Asean ke-18 dan Sidang ke-5 ADDM pada 17-20 Mei 2011

Sebuah inovasi dan trobosan sebagai peringatan dini dan kewaspadaan nasional untuk
menyelamatkan Indonesia dari 3 Sumbu Mega Ancaman yang segera akan terjadi,
sekaligus menjadikan renungan dan pemikiran menuju konsolidasi untuk
 mewujudkan wawasan nasional, semangat kebangsaan dan persatuan
sehingga akan tercipta kembali etika dan moral nasional yang
 kuat untuk percepatan kemajuan pembangunan Indonesia.
Intisari Penulisan  :      
Upaya penyelamatan yang serius dan fokus terhadap situasi “Indonesia Emergensi”
Membangkitkan Semangat Kejuangan, Persatuan dan Nasionalisme
Strategik Global Pertahanan Indonesia (SGPI) Abad 21
Paradigma Era Baru Perang Abad 21, Penjajahan dan Kejahatan Global
Inovasi dan Trobosan Mengatasi Konflik dan Menciptakan Perdamaian Asean             
Kekayaan SDA sangat besar pada Extended Jurisdiction dan Over-Lapping Areas
Analisa Gempa dan Tsunami serta Inovasi Manajemen Keselamatan Bencana
Selat Sunda dan Krakatau Ancaman Besar Jakarta Ibukota Negara
Kekuatan Militer adalah Perisai Melindungi dan Menyelamatkan Rakyat
Strategi  Pesawat Tempur Super Strike and Attack
Penerapan Teknologi Cyber Space-vs-Insiden Penerbangan yang meningkat
Pengamanan dan Penyelamatan Penerbangan terhadap Space Crime and Sabotage
Inovasi dan Prototipe Teknologi Anti Kapal Selam
Ancaman Besar Pertahanan Bawah Laut Sangat Lemah
Penegakan Hukum adalah Tonggak Kemajuan Pembangunan
Konsep Membangkitkan Semangat Persatuan dan Nasionalisme
Pemikiran dan Masukan pada Transportasi Udara Indonesia
Beberapa Inovasi dan Rancang Bangun Teknologi Terapan
Pemanfaatan, Penerapan Teknologi dalam bidang Pertahanan dan Bencana Alam


Connection Ir. M. Binsar Pane, MM

<data:blog.pageTitle/> <data:blog.pageName/> ~ <data:blog.title/>

Selasa, 13 November 2012

JAKARTA, KOMPAS.com — Kedatangan mantan Presiden Megawati Soekarnoputri di Istana Negara, Jakarta, Rabu (7/11/2012), dalam acara pemberian gelar pahlawan nasional kepada Soekarno-Hatta, menjadi perhatian tersendiri. Putri Soekarno itu akhirnya kembali berhadapan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, mantan menteri dalam kabinetnya saat ia menjabat presiden. Selain Megawati, hadir keturunan Soekarno lain, yakni Guntur Soekarnoputra, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, dan Guruh Soekarnoputra. Mereka membawa serta cucu-cucu Soekarno. Selama acara, Megawati berdiri di jajaran Wakil Presiden Boediono bersama pimpinan lembaga tinggi negara, di antaranya Ketua DPR Marzuki Alie, Ketua DPD Irman Gusman, Ketua MK Mahfud MD, Ketua BPK Hadi Purnomo, Wakil Ketua MPR Hajriyanto Y Thohari dan Melani Leimena Suharli. Tepat di depan Megawati berdiri Presiden. Prosesi diawali pembacaan Keputusan Presiden Nomor 83/TK/Tahun 2012 dan Nomor 84/TK/Tahun 2012 yang berisi penganugerahan gelar pahlawan nasional untuk Soekarno-Hatta. Kemudian, Presiden menyerahkan gelar secara resmi kepada Guntur dan Meutia Hatta yang mewakili keluarga. Setelah itu, Presiden memberikan pidato terkait pemberian gelar. Selama pidato, Megawati hanya sesekali melihat Presiden. Sambil menenteng tas dan kipas, Megawati lebih banyak melihat sekitar ruangan. Ketua Umum PDI-P itu tak memberi tepuk tangan setelah Presiden selesai menyampaikan pidato. Adapun Marzuki dan Boediono yang berdiri di samping Megawati dan para pejabat lain bertepuk tangan. Setelah berpidato, Presiden dan Ny Ani Yudhoyono serta Boediono dan Ny Herawati memberikan selamat kepada Guntur dan Meutia. Megawati mengikuti di belakang mereka. Setelah menyalami, Yudhoyono dan Boediono berdiri di samping Guntur dan Meutia. Setelah menyalami serta mencium pipi kiri dan kanan Guntur dan Meutia, Megawati akhirnya berhadapan dengan Yudhoyono. Jabat tangan pun dilakukan keduanya. Tentunya tanpa cium pipi kiri dan kanan. Megawati dan Yudhoyono tampak saling tersenyum. Acara berakhir dengan pemberian selamat para undangan kepada seluruh keluarga Soekarno-Hatta. Megawati ikut dalam barisan keluarga Soekarno. Kali ini, Yudhoyono tak menyalami lagi Megawati. Mungkin lantaran sudah berjabat tangan. Seperti diketahui, sejak Yudhoyono menjadi presiden tahun 2004, Megawati nyaris tak pernah hadir dalam acara kenegaraan di Istana. Setiap peringatan HUT, istri Ketua MPR Taufiq Kiemas itu memilih memperingatinya di Kantor DPP PDI-P di Lenteng Agung, Jakarta. Hubungan keduanya memang tak harmonis sejak saling berhadapan pada Pemilu Presiden 2004. Catatan Kompas.com, Mega hanya datang ke Istana saat Presiden menggelar jamuan makan malam kenegaraan untuk Presiden AS Barack Obama pada 2010.